Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Kamis, 26 April 2012
1. Saringan Kain Katun.
Pembuatan saringan air dengan menggunakan kain katun merupakan teknik penyaringan yang paling sederhana / mudah. Air keruh disaring dengan menggunakan kain katun yang bersih. Saringan ini dapat membersihkan air dari kotoran dan organisme kecil yang ada dalam air keruh. Air hasil saringan tergantung pada ketebalan dan kerapatan kain yang digunakan.
2. Saringan Kapas
Teknik saringan air ini dapat memberikan hasil yang lebih baik dari teknik sebelumnya. Seperti halnya penyaringan dengan kain katun, penyaringan dengan kapas juga dapat membersihkan air dari kotoran dan organisme kecil yang ada dalam air keruh. Hasil saringan juga tergantung pada ketebalan dan kerapatan kapas yang digunakan.
3. Aerasi
Aerasi merupakan proses penjernihan dengan cara mengisikan oksigen ke dalam air. Dengan diisikannya oksigen ke dalam air maka zat-zat seperti karbon dioksida serta hidrogen sulfida dan metana yang mempengaruhi rasa dan bau dari air dapat dikurangi atau dihilangkan. Selain itu partikel mineral yang terlarut dalam air seperti besi dan mangan akan teroksidasi dan secara cepat akan membentuk lapisan endapan yang nantinya dapat dihilangkan melalui proses sedimentasi atau filtrasi.
Tag :// Artikel
Rabu, 25 April 2012
Sumber : Kisah Jepang Klasik
| Konon kira-kira 400 tahun yang lalu hiduplah seorang samurai yang bernama Tanoue Jizo. Samurai tersebut di utus oleh Shogun (Panglima Militer Tertinggi di Jepang) unutk menjaga perbatasan wilayah akita dan daerah sekitarnya. Meskipun Akita adalah daerah yang bersuhu sangat dingin, tapi Jizo-san selalu melaksanakan kewajibannya untuk menjaga perbatasan denga penuh tanggung jawab. Jizo-san tidak tinggal sendirian, melainkan di temani oleh seekor anjing yang berbulu putih laksana salju. Anjing itu ia beri nama Shiro yang artinya putih. Shiro lah yagn pertama kali mendatangi rumah Jizo san ketika ia datang ke Akita untuk pertama kalinya. | ||||
| Pada suatu hari Jizo san bersama Shiro pergi ke gunung untuk berburu. Hari itu cuaca cukup cerah meskipun beberapa hari terakhir turun salju yang sangat lebat. Dimana-mana terlihat putih karena tertutup salju. Mereka telah berburu sejak pagi hingga menjelang sore hari, namun tak satu binatang pun nampak di hadapan mereka. | | |||
| “Hari ini tidak ada seekor binatang pun yang berkeliran, Shiro!” kata Jizo san kecewa. Shiro pun hanya bisa mengendus sambil mengibaskan-kibaskan ekornya. | ||||
| “Ayo, kita pulang saja!” kata Jizo san seraya beranjak pulang. Namun, ketika Jizo san hendak meninggalkan tempat itu, ia terkejut melihat Shiro yang nampak sedang mengerang-ngerang sambil memperhatikan sesuatu. | ||||
| “Ada apa, Shiro?” tanya Jizo san Karena merasa penasaran akhirnya Jizo san pun mencoba memeriksa apa sebenarnya yang sedang diperhatikan Shiro. Ternyata Shiro sedang memperhatikan seekor babi hutan besar yang berwarna biru. Aneh sekali ada babi hutan berwarna biru. Jizo san berpikir bahwa daripada pulang dengan tangan hampa lebih baik ia segera menembak babi hutan itu sebelum kabur. Namun, belum sempat ia melaksanakan niatnya ternyata babi hutan itu lari terlebih dahulu. Dan tanpa di perintah, shiro pun lari mengejarnya. Jizo san lalu mengisi senapannya dengan peluru, kemudian di arahkannya senapan itu ke arah sang babi. Dan …”DOR”!” Temabkan Jizo san tepat mengenai babi hutan itu. Tapi karena badan babi hutan itu sangat besar dan kuat maka sang babi pun tidak segera terjatuh, melainkan terus berlari kencang. Sedangkan Shiro tetap mengejar di belakangnya. | |||
| Babi hutan tersebut terus berlari melewati perbatasan. Jizo san berhenti sejenak melihat situasi daerah sekitarnya. Ia tidak melihat penjaga perbatasan. Sebenarnya bagi seorang petugas shogun seperti Jizo san, tidak masalahbila ia melintasi perbatasan. Namun, ia harus menunjukkan surat tugas dari Shogun. Tetapi, hari ini ia sengaja tidak membawa surat tugasnya karena tujuannya Cuma berburu dan tidak berencana untuk pergi sampai melintasi perbatasan wilayah daerah lain. Jizo san merasa ragu-ragu ketika hendak melangkahkan kakinya melintasi perbatasan. Tapi karena ia tidak melihat seorang penjaga pun, maka ia memutuskan untuk terus mengejar Shiro. | ||||
Tag :// Artikel
Pada zaman dahulu kala terdapatlah seorang kakek
yang baik hati. Setiap hari sang kakek pergi ke atas bukit untuk
mencangkul di lading dan mencari kayu bakar. Suatu hari, ketika sang
kakek yang baik hati itu beristirahat untuk makan siang, tiba-tiba nasi
kepal yang dipegangnya jatuh ke tanah. Nasi itu menggelinding dan
akhirnya masuk ke dalam lubang di dalam tanah. Selang beberapa waktu
setelah itu, tiba-tiba terdengan suara nyanyian yang merdu dari dalam
tanah itu “tra la la tri li li, nasi kepal yang enak dari kakek yang
baik hati.” Betapa terkejutnya sang kakek setelah mendengar nyanyian
itu. Akhirnya sekali lagi ia memasukkan nasi kepal ke dalam lubang yang
sama. Dan sekali lagi terdengar nyanyian yang sama dari dalam lubang
tersebut. Kakek sangat gembira mendengar nyanyian tersebut. Akhirnya
kakek pun pulang ke rumah dan diceritakannya kejadian itu kepada sang
nenek.
Esok
harinya, nenek memberikan bekal makanan yang lebih banyak kepada sang
kakek, agar sebagian dapat kakek berikan ke dalam lubang yang dapat
bernyanyi tersebut. Pada saat istirahat siang sekali lagi kakek
menggelindingkan sebuah nasi kepal ke dalam lubang yang sama dengan
kemarin. Dan sekali lagi terdengar nyanyian, “tra la la tri li li.
Betapa senangnya mendapat nasi kepal yang lezat dari kakek yang baik
hati.” Tiba-tiba dari dalam lubang muncullah seekor tikus dan berkata,
“kakek yang baik hati, terima kasih atas nasi kepal yang enak. Hari ini
raja kami mengundang kakek untuk makan bersama di istana. Maukah kakek
memenuhi undangan raja kami tersebut?” Mendengar
undangan dari tikus itu, sang kakek sangat terkejut, tapi akhirnya ia
menyetujui undangan sang raja tikus itu. Dengan memejamkan mata dan
memegang ekor tikus itu, kakek mengikuti tikus itu dan secara ajaib bisa
masuk ke dalam lubang tikus yang kecil itu. “Silahkan kakek membuka
mata!” kata sang tikus tadi. Dan sang kakek ternyata sudah berada di
istana negri tikus yang sangat indah. Seekor tikus besar dengan memakai
kimono yang indah menyambut kedatangan kakek. “Selamat dating di negri
tikus! Kami sangat senang kakek berkenan mengunjungi kami. Sebagai rasa
terima kasih kami atas pemberian nasi kepal yang lezat dari kakek, kami
mengadakan pesta unutk kakek. Mari mencicipi hidangan kami.” Kata tikus
besar yang nampaknya adalah raja tikus. Kakekpun akhirnya ikut menikmati
hidangan makanan yang sangat lezat itu. Tak terasa hari sudah menjadi
gelap, dan kakek pun teringat kepada nenek yang menunggunya di rumah,
maka ia segera mohon pamit kepada sang raja. Sebelum pulang, kakek
diberi sebuah peti oleh sang raja. Dengan diantar oleh tikus yang sama,
kakek pun sampai di depan pintu rumahnya. Sesampainya di rumah kakek
segera membuka peti itu, dan ternyata isinya adalah emas permata yang
sangat indah. Betapa gembira hati sang kakek dan nenek.
Tag :// Artikel

